Senin, 05 September 2011

Tugas Animasi1 - Jessica Laurentia 42409112

http://id.wikipedia.org/wiki/Antareja

Anantaraja, atau yang lebih sering disingkat Antareja, adalah salah satu tokoh pewayangan yang tidak terdapat dalam Mahabharata karena merupakan asli ciptaan para pujangga Jawa. Ia merupakan putra sulung Wrekodara atau Bimasena dari keluarga Pandawa.
Dalam pewayangan klasik versi Surakarta, Antareja merupakan nama lain dari Antasena, sedangkan versi Yogyakarta menyebut Antasena sebagai adik lain ibu Antareja, selain Gatutkaca. Sementara itu dalam pewayangan zaman para dalang versi Surakarta umumnya juga mengisahkan Antareja dan Antasena sebagai dua orang tokoh yang berbeda.
Asal-Usul
Antareja adalah putra sulung Bimasena yang lahir dari Nagagini putri Batara Anantaboga, dewa bangsa ular. Perkawinan Bima dan Nagagini terjadi setelah peristiwa kebakaran Balai Sigala-Gala di mana para Korawa mencoba untuk membunuh para Pandawa seolah-olah karena kecelakaan.
Bima kemudian meninggalkan Nagagini dalam keadaan mengandung. Antareja lahir dan dibesarkan oleh Nagagini sampai ketika dewasa ia memutuskan untuk mencari ayah kandungnya. Dengan bekal pusaka Napakawaca pemberian Anantaboga dan Cincin Mustikabumi pemberian Nagagini, Antareja berangkat menuju Kerajaan Amarta.
Di tengah jalan Antareja menemukan mayat seorang wanita yang dimuat dalam perahu tanpa pengemudi. Dengan menggunakan Napakawaca, Antareja menghidupkan wanita tersebut, yang tidak lain adalah Subadra istri Arjuna.
Tiba-tiba muncul Gatutkaca menyerang Antareja. Gatutkaca memang sedang ditugasi untuk mengawasi mayat Subadra demi untuk menangkap pelaku pembunuhan terhadap bibinya itu. Subadra yang telah hidup kembali melerai kedua keponakannya itu dan saling memperkenalkan satu sama lain.
Antareja dan Gatutkaca gembira atas pertemuan tersebut. Kedua putra Bima itu pun bekerja sama dan akhirnya berhasil menangkap pelaku pembunuhan Subadra yang sebenarnya, yaitu Burisrawa.
Kisah kemunculan Antareja untuk pertama kalinya tersebut dalam pewayangan Jawa biasa disebut dengan judul cerita Sumbadra Larung.
Kesaktian
Antareja memiliki Ajian Upasanta pemberian Hyang Anantaboga. Lidahnya sangat sakti, mahluk apapun yang dijilat telapak kakinya akan menemui kematian. Anatareja berkulit napakawaca, sehingga kebal terhadap senjata. Ia juga memiliki cincin Mustikabumi, pemberian ibunya, yang mempunyai kesaktian, menjauhkan dari kematian selama masih menyentuh bumi maupun tanah, dan dapat digunakan untuk menghidupkan kembali kematian di luar takdir. Kesaktian lain Anantareja dapat hidup dan berjalan di dalam bumi.
Sifat
Anantareja memiliki sifat jujur, pendiam, sangat berbakti pada yang lebih tua dan sayang kepada yang muda, rela berkorban dan besar kepercayaanya kepada Sang Maha Pencipta. Ia menikah dengan Dewi Ganggi, putri Prabu Ganggapranawa, raja ular di Tawingnarmada, dan berputra Arya Danurwenda.
Setelah dewasa Anantareja menjadi raja di negara Jangkarbumi bergelar Prabu Nagabaginda. Ia meninggal menjelang perang Bharatayuddha atas perintah Prabu Kresna dengan cara menjilat telapak kakinya sebagai Tumbal (korban untuk kemenangan) keluarga Pandawa dalam perang Bharatayuddha.


http://tembi.org/wayang/20110325-Antareja.htm

Raden Antareja atau Anantareja, juga mempunyai sebutan lain yaitu Nagabaginda dan Rupatala. Ia adalah anak Bimasena buah perkawinannya dengan Dewi Nagagini putri cantik anak Sang Hyang Antaboga, dewa penguasa Kahyangan Sapta Pertala. Letak kahyangan ini di dasar bumi lapisan ketujuh. Oleh karenanya dinamakan Kahyangan Sapta Pertala yang artinya Sapta = tujuh dan Pertala = bumi atau tanah.
Antareja tinggal di kasatriyan Jangkarbumi. Ia adalah sosok pemuda tampan tetapi badannya memiliki sisik seperti ular. Hal tersebut dikarenakan Hyang Antaboga ayah dari Antareja merupakan Dewanya ular, yang mempunyai dua wujud, yaitu kadang berujud Dewa dan kadang berujud ular naga yang menakutkan. Untuk wujud yang kedua ini terutama jika Antaboga sedang marah.
Antareja terkenal sangat sakti. Ia memilki pusaka andalan yang berupa upas atau bisa mematikan. Musuh yang terkena semburan upas atau bisa pasti mati. Bahkan Antareja dapat mencelakai atau membunuh musuh dari jarak jauh, hanya dengan menjilat bekas jejak telapak kaki musuh.
Dengan kesaktian seperti itu, Antareja ditakuti lawan dan disegani kawan. Namun sayang, karena kesaktiannya Antareja terpaksa disingkirkan sebelum perang Baratayuda. Tragis memang kisah ini, Antareja sengaja disingkirkan bukan oleh musuhnya tetapi oleh Prabu Kresna yang menjadi botoh perang Baratayuda, yang seharusnya membotohi para Pandawa dan anak-anak Pandawa, termasuk Antareja.
Mengapa Kresna sampai hati membunuh Antareja yang masih keponakannya sendiri? Karena Kresna tahu isi kitab Jitabsara, yaitu kitab yang berisi skenario perang Baratayuda, bahwa pada perang Baratayuda Antareja diangkat menjadi senopati perang barisan Pandawa untuk menandingi Prabu Baladewa senopati perang barisan Kurawa. Jika perang tanding antara Antareja dan Prabu Baladewa benar-benar terjadi, dapat dipastikan bahwa Prabu Baladewa akan kalah dan gugur. Kresna sangat takut kehilangan orang yang sangat dicintainya yaitu Prabu Baladewa, kakaknya. Maka jika Antareja tidak dibunuh sebelum perang baratayuda, Kakaknyalah yang akan gugur di medan perang. Dan benarlah Antareja mati sebelum perang Barayuda meletus, karena tipu daya Prabu Kresna untuk menjilat jejak kakinya sendiri.
Antareja meninggalkan satu isteri yang bernama Dewi Ganggi, anak Ganggapranawa. raja ular dari negeri Tawingnarmada dan satu anak laki-laki yang diberi nama Jayasena.



http://ki-demang.com/gambar_wayang/index.php?option=com_content&view=article&id=713&Itemid=713

Antareja adalah putera Bima/Werkundara, salah satu dari lima satria Pandawa, dengan Dewi Nagagini, putri Hyang Anantaboga dengan Dewi Supreti dari Kahyangan Saptapratala.
Antareja mempunyai 2 (dua) orang saudara lelaki lain ibu, bernama: Raden Gatotkaca, putra Bima dengan Dewi Arimbi, dan Arya Anantasena, putra Bima dengan Dewi Urangayu.
Sejak kecil Antareja tinggal bersama ibu dan kakeknya di Saptapratala (dasar bumi).
Antareja memiliki ajian Upasanta pemberian Hyang Anantaboga.
Lidahnya sangat sakti, mahluk apapun yang dijilat telapak kakinya akan menemui kematian.
Antareja berkulit napakawaca, sehingga kebal terhadap senjata.
Antareja juga memiliki cincin mustikabumi, pemberian ibunya, yang mempunyai kesaktian, menjauhkan dari kematian selama masih menyentuh bumi/tanah, dan dapat digunakan untuk menghidupkan kembali kematian di luar takdir.
Kesaktian lain Antareja dapat hidup dan berjalan didalam bumi.
Antareja memiliki sifat dan perwatakan : jujur, pendiam, sangat berbakti pada yang lebih tua dan sayang kepada yang muda, rela berkorban dan besar kepercayaanya kepada Sang Maha Pencipta.
Antareja menikah dengan Dewi Ganggi, putri Prabu Ganggapranawa, raja ular/taksaka di Tawingnarmada, dan berputra Arya Danurwenda.
Setelah dewasa Antareja menjadi raja di negara Jangkarbumi bergelar Prabu Nagabaginda.
Antareja meninggal menjelang perang Bharatayuda atas kemauannya sendiri dengan cara menjilat telapak kakinya sebagai tawur (korban untuk kemenangan) keluarga Pandawa dalam perang Bharatayuda.



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh1hnLUBOFj9S1LCvsnvgrODZ24FwuaZjH6-XPsAFQezVPYcUqxWwV4aptLf0XgLVZixEUlXgFFKNwRMh-PsEir5lWxwrnD_ieKZlQ1K0ZM0Uz-TstJv6sVKB7-aFnAFl2fN5E6Y8hl2Q/s1600/10072011042.jpg

http://wayangprabu.files.wordpress.com/2009/01/antareja.jpg?w=464

 http://tembi.org/wayang/20110325.jpg 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlNYCsyTFOJ_LS6U6CxE10UdAisGzTrlSzNfSckOQfC1g62lIxDk31Dr8U4XXQPQ3EB0hFJYReyyM-o51M09Zh-k8MOdIIBsbhhKv8eaqT59cEWPWtoy5LbEdtN1fgIF0JBmPf3MquQSo/s400/antareja_komik.jpg

http://4.bp.blogspot.com/_b0nu5oEXUN4/S5SX58TqFHI/AAAAAAAAA60/aYLbrCbcEr4/s320/antareja_grafis_jatim.jpg


ANALISA KARAKTER
Stereotype: good looking (nggak bisa dibilang tampan juga soalnya chibi ^^;); pendiam; pasif; tidak banyak cakap; tanpa ekspresi; tidak mudah dipahami.....

Archetype: Ekspresi hanya ditunjukkan dengan orang yang dekat dengannya, dan kalau dia sedang bertemu dengan sesuatu yang disukainya, bisanya dia akan tidak bisa menahan diri untuk mengeluarkan ekspresi-ekspresi tertentu; 
tidak tegaan; 
sayang pada semua mahluk hidup, makanya kalau disuruh membunuh mahluk hidup rasanya susah setengah mati. Oleh karena itu, dia juga jarang mengeluarkan senjata andalannya, lidahnya yang jika menjilat telapak kaki orang maka orang itu akan mati. Dia lebih suka beunding dan perdamaian dibandingkan bertarung.;
Lemah sama makanan yang disukainya.... yaitu klepon. LOL

Untuk bentuk tubuhnya, lebih menjorok ke arah manusia, selain dia punya sisik dan kulitnya berwarna biru, tentunya. Perawakan tubuhnya yang kecil juga disebabkan karena dia keturunan ular, dimana ular mempunyai sifat untuk berganti kulit dan menjadi muda kembali, sepertinya Antareja juga punya kekuatan ini sehingga tampangnya tetap seperti itu terus..... (saya jadi iri..... >A<)

Konon dia juga punya banyak teman ular yang bisa dipanggil setiap saat dia butuh bantuan, tapi biasanya ular-ular itu cuma muncul di kondisi tertentu saja..... (karakter misteri?)

TAMPILAN DARI BERBAGAI SISI

SKETSA EKSPRESI WAJAH
 
SKETSA GESTURE
SILUET
DETAIL AKSESORI

antareja : Ady Salim 42409027

DATA VERBAL
sekilas mengenai Antareja,
Antareja adalah putra pertama dari Bima, hasil perkawinan dengan Dewi Nagagini, putri dewa bangsa manusia-ular Sang Hyang Antaboga. Di buku ini diceritakan tentang tokoh ini memiliki perawakan seperti Gatotkaca, namun dengan kulit berwarna hijau kebiruan dan bersisik. Antareja memiliki kesaktian yang sangat ditakuti di dunia wayang. Sifatnya penyendiri, pendiam, namun tetap bijaksana. Karena keturunan dari bangsa ular, dia menjadi raja dunia bawah tanah memimpin makhluk melata.

Asal Mula
Diceritakan bahwa Bima meninggalkan Nagagini dalam keadaan mengandung. Antareja lahir dan dibesarkan oleh Nagagini sampai ketika dewasa ia memutuskan untuk mencari ayah kandungnya. Dengan bekal pusaka Napakawaca pemberian Anantaboga dan Cincin Mustikabumi pemberian Nagagini, Antareja berangkat menuju Kerajaan Amarta
Di tengah jalan Antareja menemukan mayat seorang wanita yang dimuat dalam perahu tanpa pengemudi. Dengan menggunakan Napakawaca, Antareja menghidupkan wanita tersebut, yang tidak lain adalah Subadra istri Arjuna.

Tiba-tiba muncul Gatotkaca menyerang Antareja. Gatutkaca memang sedang ditugasi untuk mengawasi mayat Subadra demi untuk menangkap pelaku pembunuhan terhadap bibinya itu. Subadra yang telah hidup kembali melerai kedua keponakannya itu dan saling memperkenalkan satu sama lain.
Antareja dan Gatutkaca gembira atas pertemuan tersebut. Kedua putra Bima itu pun bekerja sama dan akhirnya berhasil menangkap pelaku pembunuhan Subadra yang sebenarnya, yaitu Burisrawa.
Kisah kemunculan Antareja untuk pertama kalinya tersebut dalam pewayangan Jawa biasa disebut dengan judul cerita Sumbadra Larung

Kesaktian
Antareja memiliki Ajian Upasanta pemberian Hyang Anantaboga. Lidahnya sangat sakti, mahluk apapun yang dijilat telapak kakinya akan menemui kematian. Anatareja berkulit napakawaca, sehingga kebal terhadap senjata. Ia juga memiliki cincin Mustikabumi, pemberian ibunya, yang mempunyai kesaktian, menjauhkan dari kematian selama masih menyentuh bumi maupun tanah, dan dapat digunakan untuk menghidupkan kembali kematian di luar takdir. Kesaktian lain Anantareja dapat hidup dan berjalan di dalam bumi.

Sifat
Antareja memiliki sifat jujur, pendiam, sangat berbakti pada yang lebih tua dan sayang kepada yang muda, rela berkorban dan besar kepercayaanya kepada Sang Pencipta. Ia menikah dengan Dewi Ganggi, putri Prabu Ganggapranawa, raja ular di Tawingnarmada, dan berputra Arya Danurwenda. Setelah dewasa Anantareja menjadi raja di negara Jangkarbumi bergelar Prabu Nagabaginda.
http://www.tumblr.com/tagged/antareja

DATA VISUAL 
 http://wayang.files.wordpress.com/2010/03/antareja.jpg


KONSEP KARAKTER ANTAREJA :

Antareja umumnya diidentikkan dengan sosok yang gagah dan perkasa, namun kali ini saya mengambil suatu sudut pandang yang berbeda terhadap sosok seorang Antareja, seperti yang kita tahu, dalam cerita perwayangan, hampir semua karakter wayang mempunyai kekuatan magis yang aneh-aneh, dan Antareja memiliki salah satunya.

 Dilahirkan sebagai anak Bima sekaligus manusia ular, Antareja mendapat kekuatan khusus dapat hidup dalam tanah, tapi kekuatan itu rupanya membawa bonus, dimana orang yang dijilat kakinya, atau bayangannya akan dalam sekejap meninggal, hal ini dianggap hampir semua orang masa kini, menjijikkan.. dan hal ini bertolak belakang dengan sifat yang diungkapkan.

Saya menemukan hal ini sebagai sesuatu yang menarik, saya berusaha memadukan kedua perihal yang bertolak belakang ini dalam karakter yang saya buat.. Antareja saya gambarkan sebagai anak-anak yang terlihat ceria, tapi mempunyai kebiasaan buruk, lidahnya sering keluar (versi "lebay" dari kesaktiannya) dan dia berusaha menutupi nya.









silhouette

Sabtu, 03 September 2011

AntaReja - post by christine 42409026


DATA VERBAL 
 
http://wayang.wordpress.com
 
Raden Hanantareja yang dalam pedalangan cukup dipanggil Anantareja, mempunyai
nama lain Wasianantareja, Anantarareja. Ia adalah putra raden Werkudara
dengan Dewi nagagini, putri Batara Antaboga, di kahyangan Saptapretala.
Antareja kawin dengan Dewi GAnggi, putri Prabu Ganggapranawa raja ular
di kerajaan Tawingnarmada. Dari perkawinan ini lahirlah Arya Danurwenda
yang kemudian diangkat menjadi patih luar (patih njaba) negara Yawastina
pada masa pemerintahan Prabu parikesit. Antareja berkedudukan di kasatriyan 
Randuwatang/ Jangkarbumi.
Antareja mempunyai kesaktian racun/bisa pada air liurnya yang dapat membinasakan lawan dalam waktu sekejap. Kulitnya yang bersisik Napakawaca mampu menahan serangan senjata tajam. Ia juga mempunyai cincin sakti Mustikabumi pemberian dari ibunya untuk tanda bukti bahwa Antareja adalah putra Dewi Nagagini.Dengan cincin Mustikabumi, Antareja dapat menghidupkan kembali Subadra yang sudah meninggal karena dibunuh oleh Burisrawa secara tidak sengaja.
Akhirnya riwayat Antareja dikisahkan dalam lakon Tawur atau pengorbanan keluarga demi mencapai kejayaan perang. 
Antareja rela mati dengan menjiliat telapak kakinya sendiri dengan anugerah menempati sorgaloka tingkat sembilan (swarga tunda sanga) milik Sri Kresna.
  
versi WIkipedia :
Antareja adalah anak dari Werkodara atau Bima dari istri keduanya Nagagini seorang putri Dewa Antaboga. Dikisahkan dia adalah seorang satria yang tangguh, sakti mandraguna. Ia mempunyai 2 (dua) orang saudara lelaki lain ibu, bernama: Raden Gatotkaca, putra Bima dengan Dewi Arimbi, dan Arya Anantasena, putra Bima dengan Dewi Urangayu. Sejak kecil Anatareja tinggal bersama ibu dan kakeknya di Saptapratala (dasar bumi).
Ia memiliki Ajian Upasanta pemberian Hyang Anantaboga. Lidahnya sangat sakti, mahluk apapun yang dijilat telapak kakinya akan menemui kematian. Anatareja berkulit napakawaca, sehingga kebal terhadap senjata. Ia juga memiliki cincin mustikabumi, pemberian ibunya, yang mempunyai kesaktian, menjauhkan dari kematian selama masih menyentuh bumi/tanah, dan dapat digunakan untuk menghidupkan kembali kematian di luar takdir. Kesaktian lain Anantareja dapat hidup dan berjalan didalam bumi.
Anantareja memiliki sifat dan perwatakan : jujur, pendiam, sangat berbakti pada yang lebih tua dan sayang kepada yang muda, rela berkorban dan besar kepercayaanya kepada Sang Maha Pencipta. Ia menikah dengan Dewi Ganggi, putri Prabu Ganggapranawa, raja ular/taksaka di Tawingnarmada, dan berputra Arya Danurwenda.
Setelah dewasa Anantareja menjadi raja di negara Jangkarbumi bergelar Prabu Nagabaginda. Ia meninggal menjelang perang Bharatayuda atas perintah Prabu Kresna dengan cara menjilat telapak kakinya sebagai tawur (korban untuk kemenangan) keluarga Pandawa dalam perang Bharatayudha.

DATA VISUAL
sumber semua gambar : wordpress.com











ANALISA DATA
 secara...
Stereotype : tampan, bersisik,
warna kulit seperti ular, memiliki kaki & tangan yang kuat, otot perutnya tebal, kulitnya tebal dan kasar, memiliki taring seperti ular, lidahnya panjang dan terbelah, mengenakan cincin.
Archetype : jujur, pendiam, berbakti ke orang tua, tegas, setia, berwibawa, penurut, pintar berstrategi.
Antareja menurut saya pribadi adalah antareja yang meskipun pendiam, dia liar seperti ular, gerak-geriknya dalam diam dan tidak bersuara oleh karena itu antareja ini tidak memakai pakaian yang terlalu rumit dan perhiasan" yang rumit
Sekilas tampak menakutkan dengan tubuh yang gagah, bersisik seperti ular, namun saat melihat ketampanannya dan perilakunya, caranya berpakaian.. orang akan langsung bertanya-tanya,
"siapakah orang ini?", 
      "Dari kaum bangsawankah orang ini?!",
"Apa yang akan dia lakukan???!"
satu sosok yang begitu misterius, 
menarik perhatian, 
dapat mendatangkan kegelisahan sekaligus kebanggaan. 
Siapakah DIA?? Seperti apa DIA???
Anatereja yang sebentar lagi akan saya tampilkan^^hehehe
jadi, tunggu posting CY selanjutnya >.< !!!!!!!!!!!!!!!!!!!
thnx-B.Y.E.


okkkeey!!
uda jadi sketsanya^^
wkwkwkwk








Jumat, 02 September 2011

jane Oentardjo

Data verbal visual
Antareja
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
 

Wayang Antareja gaya Surakarta .
Anantaraja, atau yang lebih sering disingkat Antareja, adalah salah satu tokoh pewayangan yang tidak terdapat dalam Mahabharata  karena merupakan asli ciptaan para pujangga Jawa . Ia merupakan putra sulung Wrekodara  atau Bimasena  dari keluarga Pandawa .
Dalam pewayangan klasik versi Surakarta , Antareja merupakan nama lain dari Antasena , sedangkan versi Yogyakarta  menyebut Antasena sebagai adik lain ibu Antareja, selain Gatutkaca . Sementara itu dalam pewayangan zaman para dalang versi Surakarta umumnya juga mengisahkan Antareja dan Antasena sebagai dua orang tokoh yang berbeda.


 ] Asal-Usul
Antareja adalah putra sulung Bimasena  yang lahir dari Nagagini putri Batara Anantaboga , dewa bangsa ular. Perkawinan Bima dan Nagagini terjadi setelah peristiwa kebakaran Balai Sigala-Gala di mana para Korawa  mencoba untuk membunuh para Pandawa  seolah-olah karena kecelakaan.
Bima kemudian meninggalkan Nagagini dalam keadaan mengandung. Antareja lahir dan dibesarkan oleh Nagagini sampai ketika dewasa ia memutuskan untuk mencari ayah kandungnya. Dengan bekal pusaka Napakawaca pemberian Anantaboga dan Cincin Mustikabumi pemberian Nagagini, Antareja berangkat menuju Kerajaan Amarta .
Di tengah jalan Antareja menemukan mayat seorang wanita yang dimuat dalam perahu tanpa pengemudi. Dengan menggunakan Napakawaca, Antareja menghidupkan wanita tersebut, yang tidak lain adalah Subadra  istri Arjuna .
Tiba-tiba muncul Gatutkaca  menyerang Antareja. Gatutkaca memang sedang ditugasi untuk mengawasi mayat Subadra demi untuk menangkap pelaku pembunuhan terhadap bibinya itu. Subadra yang telah hidup kembali melerai kedua keponakannya itu dan saling memperkenalkan satu sama lain.
Antareja dan Gatutkaca gembira atas pertemuan tersebut. Kedua putra Bima itu pun bekerja sama dan akhirnya berhasil menangkap pelaku pembunuhan Subadra yang sebenarnya, yaitu Burisrawa .
Kisah kemunculan Antareja untuk pertama kalinya tersebut dalam pewayangan Jawa  biasa disebut dengan judul cerita Sumbadra Larung.
[sunting ] Kesaktian
Antareja memiliki Ajian Upasanta pemberian Hyang Anantaboga. Lidahnya sangat sakti, mahluk apapun yang dijilat telapak kakinya akan menemui kematian. Anatareja berkulit napakawaca, sehingga kebal terhadap senjata. Ia juga memiliki cincin Mustikabumi, pemberian ibunya, yang mempunyai kesaktian, menjauhkan dari kematian selama masih menyentuh bumi maupun tanah, dan dapat digunakan untuk menghidupkan kembali kematian di luar takdir. Kesaktian lain Anantareja dapat hidup dan berjalan di dalam bumi.
[sunting ] Sifat
Anantareja memiliki sifat jujur, pendiam, sangat berbakti pada yang lebih tua dan sayang kepada yang muda, rela berkorban dan besar kepercayaanya kepada Sang Maha Pencipta . Ia menikah dengan Dewi Ganggi, putri Prabu Ganggapranawa, raja ular di Tawingnarmada, dan berputra Arya Danurwenda.
Setelah dewasa Anantareja menjadi raja di negara Jangkarbumi bergelar Prabu Nagabaginda. Ia meninggal menjelang perang Bharatayuddha  atas perintah Prabu Kresna  dengan cara menjilat telapak kakinya sebagai Tumbal (korban untuk kemenangan) keluarga Pandawa  dalam perang Bharatayuddha .
[sunting ] Antareja
Catatan:tokoh ini sering juga digunakan untuk tokoh Danurwenda,anak Antareja yang mengabdi pada Parikesit .
Anantaraja, atau yang lebih sering disingkat Antareja, adalah salah satu tokoh pewayangan yang tidak terdapat dalam Mahabharata karena merupakan asli ciptaan para pujangga Jawa. Ia merupakan putra sulung Werkudara atau Bimasena dari keluarga Pandawa.

Dalam pewayangan klasik versi Surakarta, Antareja merupakan nama lain dari Antasena, sedangkan versi Yogyakarta menyebut Antasena sebagai adik lain ibu Antareja, selain Gatutkaca. Sementara itu dalam pewayangan zaman para dalang versi Surakarta umumnya juga mengisahkan Antareja dan Antasena sebagai dua orang tokoh yang berbeda.
Asal-Usul

Antareja adalah putra sulung Bimasena yang lahir dari Nagagini putri Batara Anantaboga, dewa bangsa ular. Perkawinan Bima dan Nagagini terjadi setelah peristiwa kebakaran Balai Sigala-Gala di mana para Korawa mencoba untuk membunuh para Pandawa seolah-olah karena kecelakaan.
Bima kemudian meninggalkan Nagagini dalam keadaan mengandung. Antareja lahir dan dibesarkan oleh Nagagini sampai ketika dewasa ia memutuskan untuk mencari ayah kandungnya. Dengan bekal pusaka Napakawaca pemberian Anantaboga dan Cincin Mustikabumi pemberian Nagagini, Antareja berangkat menuju Kerajaan Amarta.
Di tengah jalan Antareja menemukan mayat seorang wanita yang dimuat dalam perahu tanpa pengemudi. Dengan menggunakan Napakawaca, Antareja menghidupkan wanita tersebut, yang tidak lain adalah Subadra istri Arjuna.
Tiba-tiba muncul Gatutkaca menyerang Antareja. Gatutkaca memang sedang ditugasi untuk mengawasi mayat Subadra demi untuk menangkap pelaku pembunuhan terhadap bibinya itu. Subadra yang telah hidup kembali melerai kedua keponakannya itu dan saling memperkenalkan satu sama lain.
Antareja dan Gatutkaca gembira atas pertemuan tersebut. Kedua putra Bima itu pun bekerja sama dan akhirnya berhasil menangkap pelaku pembunuhan Subadra yang sebenarnya, yaitu Burisrawa.
Kisah kemunculan Antareja untuk pertama kalinya tersebut dalam pewayangan Jawa biasa disebut dengan judul cerita Sumbadra Larung.
Kesaktian
Antareja memiliki Ajian Upasanta pemberian Hyang Anantaboga. Lidahnya sangat sakti, mahluk apapun yang dijilat telapak kakinya akan menemui kematian. Anatareja berkulit napakawaca, sehingga kebal terhadap senjata. Ia juga memiliki cincin Mustikabumi, pemberian ibunya, yang mempunyai kesaktian, menjauhkan dari kematian selama masih menyentuh bumi maupun tanah, dan dapat digunakan untuk menghidupkan kembali kematian di luar takdir. Kesaktian lain Anantareja dapat hidup dan berjalan di dalam bumi.
Sifat
Anantareja memiliki sifat jujur, pendiam, sangat berbakti pada yang lebih tua dan sayang kepada yang muda, rela berkorban dan besar kepercayaanya kepada Sang Maha Pencipta. Ia menikah dengan Dewi Ganggi, putri Prabu Ganggapranawa, raja ular di Tawingnarmada, dan berputra Arya Danurwenda.
Setelah dewasa Anantareja menjadi raja di negara Jangkarbumi bergelar Prabu Nagabaginda. Ia meninggal menjelang perang Bharatayuddha atas perintah Prabu Kresna dengan cara menjilat telapak kakinya sebagai Tumbal (korban untuk kemenangan) keluarga Pandawa dalam perang Bharatayuddha.